Dalam 2 Minggu ini PCNU kabupaten Purwakarta melakukan kunjungan kepada MWC & ranting NU se kabupaten Purwakarta, Di hadapan para pengurus MWCNU Se Kecamatan Campaka itu, sekNU Purwakarta mengungkapkan tugas dan tanggung jawab pengurus Nahdlatul Ulama di semua tingkatan, yang harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Sebab ulama-ulama NU memiliki ruh untuk bertanggung jawab terhadap jam'iyah atau organisasi NU. "Saya ingin kita semua ingat kembali tentang apa tujuan hakiki dari muassis (pendiri) mendirikan jam'iyah Nahdlatul Ulama. Jangan sampai karena perkembangan apapun yang terjadi, apapun yang terjadi pada perjalanan NU ini membuat kader-kader NU lupa pada tujuan hakiki itu dan lalu terseret menjadikan NU berjalan ke arah yang tidak sesuai dengan tujuan hakiki sebagai kader jam'iyah," kata BSM.
KH. Ii Syafe'i Nurzaman yang juga sebagai Katib Syuriah menegaskan bahwa NU secara khusus didirikan oleh para ulama sebagai pewaris para nabi ( Al ulama warosatul anbiya ) untuk menguatkan khidmah atau pengabdian ulama sesuai dengan tugas dan kewajiban ulama. Baginya tugas dan kewajiban ulama sama dengan tugas dari para nabi-nabi, hanya saja kekuatannya yang berbeda. "Tugasnya adalah melaksanakan tabligh dan riayah. Tabligh menyampaikan dengan cara-cara yang terhormat dan mengasuh (riayah) umat itu tugas ulama," jelasnya.
Hal penting lagi, H. Budi menambahkan, mengutip apa yang di sampaikan Ketua Umum PBNU bahwa tugas ulama bukan hanya terkait soal teknis, tetapi soal wadzifah atau amalan yang mengandung roh jihad di jalan Allah untuk menegakkan kalimat-kalimat Allah.
Adapun Tentang perkembangan politik, Budi juga menyampaikan Sikap politik NU dinamis, Pengurus PCNU NU saat berkunjung ke beberapa MWC, diantaranya Darangdan, Bojong, dan Campaka, Rabu - Kamis (25 - 26/9/2024). Pada kesempatan itu, Budi menyampaikan pesan ketum PBNU bahwa dalam perkembangan sejarah NU, sikap politik NU selalu menyesuaikan dengan kebutuhan zaman yang terjadi. Hal ini disesuaikan dengan peluang, tantangan, dan kesempatan yang ada. "NU pernah menjadi partai politik karena tuntutan zaman, pada waktu itu bahwa pilihan yang terbaik adalah melibatkan diri dalam politik sebagai partai politik, itu dilakukan," katanya. Pembedanya adalah roh amalan dari NU itu tidak berubah meski pernah menjadi partai politik, karena yang dilakukan adalah penyesuaian dengan tugas dan tanggung jawab keulamaan sehingga ketika tidak berpolitik, NU tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. "Karena roh ini tidak berubah ketika pada satu titik kemudian model partai politik tidak lagi mampu melayani tugas hakiki dari ulama itu, NU kembali ke khittah berhenti dari politik," katanya. "Kalau lupa ya nggak akan ada gagasan untuk mencari atau mengoreksi arah perkembangan politik dari partai politik ke khittah itu tidak akan terjadi, kalau tidak ingat pada hakikat wadzifah ulama," tambahnya.
Yang paling tak kalah penting bahwa dalam konsolidasi PCNU ke MWC dan Ranting se kabupaten Purwakarta ini, kami dr PCNU mengharapkan selain hal' tadi adanya peningkatan ukhuwah Islamiah Annahdiyah secara kultural maupun struktural, sekaligus sebagai wahana untuk menyampaikan rencana kerja serta menyerap aspirasi yang anggap perlu di lakukan.
Alhamdulillah ini adalah yang ke 12 dari 17 kunjungan yang kami selenggarakan. Demikian Budi akhiri.

