Purwakarta - Maraknya aksi premanisme yang meresahkan masyarakat di sejumlah wilayah di Jawa Barat khususnya yang terjadi di Purwakarta mendapat perhatian serius dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Seorang Kyai terkemuka menyerukan agar warga tidak hanya mengandalkan aparat keamanan, tetapi juga memperkuat pengawasan berbasis keagamaan. Pendekatan spiritual dinilai menjadi kunci untuk mencegah generasi muda terjerumus dalam perilaku kekerasan dan pemerasan.
Sang Kyai menekankan bahwa premanisme bukan sekadar masalah hukum pidana, melainkan krisis moral dan hilangnya rasa takut kepada Tuhan. Ia mengajak para orang tua dan tokoh masyarakat untuk lebih aktif membentengi lingkungan dengan nilai-nilai agama sejak dini.
"Preman itu lahir karena kosongnya hati dari iman. Kalau kita hanya mengandalkan polisi, itu reaktif. Tapi kalau kita menghidupkan kembali majelis taklim, mengaji bersama, dan menanamkan akhlak mulia di rumah, itu preventif. Warga harus saling mengingatkan, jangan sampai tetangga sebelah punya anak yang mulai bergaul dengan kelompok tidak jelas tapi kita diam saja. Ini tanggung jawab bersama," ujar KH Anwar Nasihin Ketua PCNU Kabupaten Purwakarta.
Beberapa pengurus Banom NU sesuai arahan orang tua bahkan berencana mengintegrasikan program keamanan lingkungan (siskamling) dengan kegiatan keagamaan rutin. Tujuannya adalah menciptakan ruang sosial yang kondusif sekaligus mempererat solidaritas antarwarga sehingga oknum preman sulit berkembang biak.
Menurut sang Kyai, ketakutan akan sanksi sosial dan dosa di akhirat seringkali lebih efektif menahan niat jahat daripada sekadar ancaman penjara.
Langkah preventif berbasis komunitas dan agama ini diharapkan dapat menjadi model penanganan premanisme yang berkelanjutan. Dengan mengembalikan fungsi agama sebagai kontrol sosial, masyarakat tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga sehat secara moral.
" Fokus pada "solusi" daripada sekadar "keluhan" pendekatan agama
kontrol sosial, preventif, akhlak mulia, dan solidaritas warga," pungkasnya.
