Siapa Jurnalis Pejuang NU Pada Masa Awal Berdiri, Hingga Menjadikan NU sebagai Ormas Islam Terbesar Di Indonesia




Purwakarta - Kenapa Organisasi Islam NU ( Nahdlatul Ulama ) bisa menjadi ormas islam terbesar di Indonesia, bahkan diakui oleh dunia. Mungkin salah satunya karena peran NU yang juga melibatkan sebuah ' tinta didalam Pena ' sebagai corong publikasi bahwa NU ada dan hadir untuk umat islam secara kaffah .

Dan pemahaman akan Kata "kaffah" sendiri singkat dijabarkan, berasal dari bahasa Arab (كَافِحٌ atau كَفَّاحٌ) yang memiliki beberapa makna tergantung pada konteks penggunaannya.
- Secara harfiah: Berarti "penuh", "lengkap", "komprehensif", atau "meliputi segala aspek".

Lalu siapa sosok jurnalis yang pertama kali mempublikasikan NU pada masa awal berdirinya NU di Indonesia. Dan bagaimana kontribusi sang jurnalis tersebut berperan untuk NU.

Adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus seorang aktivis pers yang berpengaruh. Dan Nama inilah yang muncul dan tercatat diberbagai flatprom internet sebagai sosok yang gigih mempublikasikan NU dan kemudian menjadi bagian dari sejarah besarnya NU di Indonesia.
Ialah KH. Abdul Wahab C seorang penulis yang mendirikan majalah tengah bulanan Suara Nahdlatul Ulama (dulu juga dikenal sebagai Soeara Nahdlatoel Oelama) dan merupakan media NU tertua dan pertama yang menggunakan aksara pegon.

Meskipun tidak ada catatan pasti kapan pertama kali terbit, terdapat data yang menyebutkan tahun 1927 atau 1931.

Selain itu, ia juga terlibat dalam mengelola majalah Berita Nahdlatul Ulama yang terbit pada tahun 1931.
Mbah Wahab melihat media sebagai sarana efektif untuk berdakwah serta membangun semangat kebangsaan, dan karyanya telah menjadi bagian penting dalam sejarah pers dan perkembangan NU.
Selainnya, KH. Wahid Hasyim (putra pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari) juga dikenal sebagai salah satu redaktur majalah Berita Nahdlatul Ulama.

Previous Post Next Post